Kata Bijak Hari Ini

3 RUMUS SUKSES

Rumus 1 :
Man Jadda Wajada
(Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
Rumus 2 :
Man Shobaro Zhafira
(Siapa yang bersabar akan beruntung)
Rumus 3 :
Man Saro 'Aladdarbi Washola
(Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai)


Pengalaman Naik Pesawat dengan Kaki DIGIPS

05 Januari 2014 13.46 By Arsyil Statistikawan


Hari jumat 29 November 2013 aku mengalami kejadian yang membuat kaki kiriku patah tulang, lalu ke rumah sakit UKI dan sehari setelahnya kakiku digips oleh dokter-dokter yang dipimpin oleh dr seorang dokter bernama Karuniawan. Pada hari selasa aku memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dengan pertimbangan finansial tentunya, itu juga biaya yang harus kukeluarkan sebesar 9 juta an. Lalu hari jumat 6 Desember 2013 aku bersama ibuku pulang dari Pamulang, Tangerang Selatan ke rumahku di Pangkalan Bun, Kalteng naik pesawat.

Entah kenapa harga tiket lagi mahal mungkin akhir tahun kali biasanya 600 ribuan, sekarang bisa 1 juta an, dan aku pesan yang paling murah 800ribu pesawat KalStar berangkat jam 11 pagi. Aku beli tiket lewat lewat online di traveloka.com karena di situs itu bisa bayar pakai cimbclick. Malam sebelumnya aku juga sudah pesan taksi Express untuk mengantar aku ke bandara jam 7 pagi lewat call centernya di 500122. Oke persiapan OK!

Wow the taxi came so early. Jam 6 taksi udah datang padahal aku baru sarapan. Mau gimana lagi aku dan ibuku sebaiknya berangkat sekarang, takutnya argo sudah jalan. Sewaktu aku pesan taksi semam aku dah minta ke call center supaya dikirimkan taksi dengan sopir yang tau jalan dari pamulang ke bandara lewat jalan cepat gak lewat tol, ternyata sopirnya ini agak lupa jalan jadinya sempat sedikit salah jalan. Dan benar sekali dugaanku jam segini jalan sangat macet parah. Alhasil hampir 2 jam jam kayaknya kami akhirnya sampai di bandara terminal 1c. Agak pegal juga kaki karena selama di taksi duduk di jok belakang dengan kaki lurus tak bisa ditekuk. Argo taksi sesuai dugaanku 150ribuan.

Sambil menunggu ibuku ke kantor KalStar untuk meminta kursi roda , aku duduk di kursi dekat perberhentian taksi. Di Kantor Kalstar ibuku sepertinya bertemu dengan staf situ yang biasa mengurus pengajuan kursi roda. Beberapa saat kemudian ada seorang bapak yang membawa kursi roda mendatangiku dan membantuku duduk disitu. Kulihat dari id cardnya dia sepertinya petugas bandara. Bapak itu menolong kami untuk mengambil tiket lalu cek-in. Dia sempat meminta materai katanya untuk membut surat pernyataan. Aku gak tau isi surat itu gimana tapi alhamdulillah dia langsung mendapat materai lalu ibuku mengurusnya. Setelah cek-in kami menuju ke ruang tunggu, di jalan sempat aku takut untuk mengharuskanku naik tangga/eskalator. Ternyata ada lift untuk penyandang cacat dan lansia, kami menggunakannya. Setelah sampai di ruang tunggu bapak tadi pergi sepertinya tugas dia selesai mengantarkanku sampai di sini.

Jam 11 kurang pesawat datang dan ada petugas pesawat yang mendatangiku dan membawaku ke dalam pesawat. Aku adalah penumpang yang pertama masuk artinya aku diprioritaskan masuk ke kabin pesawat lebih dulu. Sempat aku sedikit ngotot minta ke pramugari agar aku bisa duduk di kursi paling depan karena kakiku digip tidak bisa ditekut. Ternyata tidak boleh karena katanya itu untuk emergency dia minta aku tetap duduk sesuai nomor kursi. Lalu aku mengikutinya ternyata aku memperoleh 3 kursi sekaligus sebagai tempat kakiku berselonjor. Kursi yang ketiga cukup untuk diduduki oleh ibuku. Alhamdulillah lega hingga mennggu 1 jam ke depan sampai di Pangkalan Bun.

Tiba di bandara Iskandar Pankalan Bun aku menjadi penumpang yang paling akhir turun dari pesawat. Turun dari pesawat melewati tangga aku ditolong oleh petugas disitu. Ini adalah pertama kali aku turun tangga dengan keadaan kaki patah digips. Aku turun dengan cara salah satu tanganku dibopong di pundak petuas itu lalu di bawah tangga sudah siap sebuah kursi roda. Dengan kursi roda aku masuk ke bandara.

Setelah ibuku ambil bagasi kami kami keluar bandara. Di luar sudah menunggu bapak dan adik-adikku. Lalu aku pulang dengan menggunakan taksi karena aku tidak memungkinkan untuk pulang dengan motor. Taksi di bandara Pangkalan Bun ini punya tarif yang sudah fix alias tidak pakai argo, jauh dekat mengantarkan di dalam kota tarifnya sama 75 ribu. Aku bersyukur sudah ada taksi disini karena beberapa tahun lalu belum ada taksi. Sungguh memudahkan dan menolong terutama di saat kondisi seperti yang terjadi padaku ini maklum kami tidak punya mobil. Sesampai di rumah langsung kuucap alhamdulillah....langsung aku tiduran lega atas berakhirnya perjalanan yang luar dari biasanya ini.

Tulisan Lain yang berhubungan



Share
Add my Facebook here!

Reaksi: 

0 Response to "Pengalaman Naik Pesawat dengan Kaki DIGIPS"

Posting Komentar

CARA BERKOMENTAR:
Beri komentar sebagai, pilih: Nama/URL
Isi nama anda, kosongkan "URL" jika tidak punya website/blog. Kalau ngisi alamat Web jangan lupa "http://", contoh: http://arsyil.blogspot.com

Ctt: Identitas anda sangat saya perlukan. Jgn lupa nama ya!

Daftar Isi