Kata Bijak Hari Ini

3 RUMUS SUKSES

Rumus 1 :
Man Jadda Wajada
(Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
Rumus 2 :
Man Shobaro Zhafira
(Siapa yang bersabar akan beruntung)
Rumus 3 :
Man Saro 'Aladdarbi Washola
(Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai)


JUAL : Doormat/Keset, Sajadah Mak Genyol Murah Semarang (Eceran/Grosir)

29 Februari 2012 09.48 By Arsyil Statistikawan 2 Komentar


Assalamualaikum wr wb.

Ane mau nawarin produk ane..
Doormat (keset) n Sajadah (namanya Mak genyol).
Ini adalah produk hasil PKMK (program kreativitas mahasiswa Kewirausahaan) tim kampus ane.

Doormat/keset = @Rp15.000,- (3 pcs = @Rp13.500 -berlaku kelipatan-)
_>>> Dijamin mantab gan, lebih tebal dari keset biasanya. Kreasi warna dan motif bisa dipesan gan! Harga murah bersaing.

Sajadah Mak Genyol = Rp100.000,-
_>>> Kalau agan mau beribadah/sholat dengan khusuk ini jadi pilihan tepat gan! Soalnya empuk BGT. Manyoos lah buat duduk waktu sholat. Atau kalau ada nenek/kakek yang butuh alas sholat yang empuk tolong tawarin ya gan.

Kalau beli banyak bisa diantar..
Rumah produksi di daerah Pucang Gading Semarang
Call/SMS: ARSYIL (086740562043)

Langsung aja gan lihat fotonya:


Doormat with Motif

Sajadah Mak Genyol

Selengkapnya...

Reaksi: 

Perbandingan Jasa Pengiriman JNE vs TIKI vs POS INDONESIA (Pengalaman Pribadi)

23 Februari 2012 09.53 By Arsyil Statistikawan 170 Komentar




Kali ini arsyil bukan mau cerita tentang pengalaman pribadi diri sendiri. Tapi saya share pengalaman pribadi dari seorang kaskuser (thanks to agan FWC). Saatnya untuk membandingan ke tiga layanan jasa kurir pengiriman barang dan dokumen Indonesia yang paling sering digunakan masyarakat.

1. CUSTOMER SERVICE
customer service Jne paling gampang dihubungi dan sangat responsif, sopan ramah dan cekatan. Pos indonesia diurutan kedua, CSnya sopan dan juga responsif namun agak lama ketika menuggu hasil tracking atau status pengiriman. Tiki yang paling buruk, sulit sekali Hotlinenya dihubungi, apalagi ketika diatas jam 3 sore, untuk mengetahui status pengiriman juga lamban dan tidak mau pusing, sering sekali mereka mengatakan untuk menghubungi mereka sesaat lagi.

2. TARIF
Untuk tarif Pos indonesia yang termurah, tarif dokumen dan parcell jauh lebih murah dibanding tiki dan jne, sementara Tiki diurutan berikutnya, Jne masih yang paling mahal walaupun hanya sedikit perbedaan dengan Tiki.

3. SERVICE AREA
Untuk jasa pengiriman keseluruh indonesia, cuma Pos indonesia yang mampu menjangkau sampai pelosok negeri, door to door. urutan selanjutnya Tiki, area yang dijangkau cukup besar dan dalam. yang terburuk Jne, mereka hanya menjangkau area-area besar, dan umumnya untuk area pedalaman tidak akan pernah bisa dikirim.
Untuk jalur internasional masih Pos indonesia yang paling mumpuni, mereka ada cooperation dengan EMS (paling top markotob dah di jalur internasional!!), cepat dan termurah!! , sementara tiki masih melempar service Internasional kepada FED-EX, itupun tidak menjamin kalau mereka akan menggunakan layanan dan tarif Priority fedex walaupun pengirim telah membayar dengan tarif Priority. untuk Jne saya tidak mengetahui apakah mereka melakukan hal yang sama dengan Tiki, namun sejauh ini saya hanya menggunakan 1 kali pengiriman jalur internasional menggunakan Jne, dan sampai ketujuan dengan cepat dan tepat.

4. SERVICE KILAT
Di pos ada Paket pos kilat khusus, di Tiki ada ss dan ons(One day service) dan di Jne ada ss dan Yes. untuk layanan ini Yes(Yakin esok sampai) dari Jne yang paling baik, karena mereka menjanjikan garansi uang kembali bila barang tidak diterima dalam waktu 1x 24 jam, dan sampai saat ini, paket jasa YES merupakan paket yang paling membuat saya puas, hanya ada 1 kali pending, itu karena adanya gempa bumi, setelah itu paket meluncur dengan sempurna. bila alamat tujuan sedang kosong atau ditinggal si penghuni, mereka dengan segera menkontak psi penerima paket!! ck ck ck mantap!! sementara ons di tiki hampir mirip dengan Yes jne, namun sayangnya kerapkali di Ons tiki melebihi satu hari dari janji yang telah diberikan. sementara Paket pos kilat khusus memiliki kecepatan yang baik setelah Yes Jne, kekurangan pos kilat khusus hanyalah sering kali mengcancel tujuan alamat yang sedang kosong atau ditinggal pergi, padahal seharusnya mereka bisa menghubungi si penerima bila hal itu terjadi.

5. Keseluruhan layanan pengiriman paket / parcell
Keseluruhan jne unggul sedikit dari Pos indonesia, disamping begitu mudahnya mencari cabang-cabang Jne diseluruh daerah, dengan tarif sedikit lebih mahal, terbayar dengan fasilitas dan layanan yg ada. sementara tiki sangat jauh di bawah, soal pelayanan pun sangat disayangkan, beberapa kali cabang-cabang tiki memiliki masalah dengan timbangan dan ukuran, dan beberapa kali saya di hubungi cabang tiki untuk pengajuan uang tambahan karena kesalahan perhitungan volume dan berat parcell, bila tidak setuju maka paket tidak akan dikirim dan akan dikembalikan! padahal itu bukan kesalahan pengirim dan seharusnya jadi tanggung jawab cabang tersebut!
sementara pos indonesia masih terdepan untuk pengiriman pelosok daerah dan jalur internasional, namun sayang tarif lokal dicabang daerah sering kali berbeda-beda hingga sering membingungkan saya, namun selain itu sayangnya service pengiriman juga sering kembali hanya karena alamat yg dituju kosong/tak berpenghuni, padahal alamat yg dituju berpenghuni dan sedang ditinggal pergi.

KESIMPULAN - THE WINNER IS:
1. JNE
2. POS INDONESIA
3. TIKI

Selengkapnya...

Reaksi: 

Dua Kamar Bersebelahan : Yang Satu Bekerja Keras Memenuhi Kebutuhan Hidup dan Yang Satunya Suka Berfoya-Foya

16 Februari 2012 17.39 By Arsyil Statistikawan 0 Komentar

Kosku merupakan rumah kontrakan bernama Wisma Khalid Bin Walid. Terdiri atas 7 Kamar, sekarang berpenghuni 10 orang (dulunya 13 orang), termasuk aku. Tapi disini aku mau menyoroti dua orang dari penghuninya. Mereka berdua memiliki kamar yang bersebelahan. Sebut saja S dan N. S dan N adalah sama-sama angkatan 2010 dan satu jurusan di fakultas Mipa Undip. Karena satu rumah dengan mereka, pastinya aku mengerti apa yang mereka kerjakan sehari-hari. Sungguh ironis, mereka berdua memiliki kebiasaan yang berkebalikan.

S adalah seorang pekerja keras. Di semester 3 ini ia sudah memikirkan untuk mencari nafkah sendiri. Bahkan berusaha sendiri mencari uang untuk keperluan biaya kuliah. Luar biasa, semangat S sangatlah besar dalam bekerja. Bahkan siap kalau ia diberi pekerjaan. Alhamdulillah aku juga sempat memberi ia kerjaan dan mendapatkan imbalan. Kurasa, semangat bekerja S lebih besar dari yang kupunya. Semoga ku bias mencontoh itu darinya. Syukur, S sejak semester kemarin mendapat beasiswa BUMN, sama seperti aku. Sehingga lumayan teerbantu atas beasiswa itu.

Selain bekerja, S juga sangat semangat untuk mengikuti kompetisi ilmiah. Budaya ilmiah sudah sangat melekat pada diri S. Alhamdulillah, 2 buah proposal PKM dari S, lolos didanai oleh Dikti. Dan sekarang, tak berhenti disitu, ia tetap bersemangat mengejar PKM lagi. Wah luar biasa.

Lalu, kamar yang satunya ada si N. Duh duh, jangan ditanya dia dikirimi uang bulanan berapa, wong makan seharinya aja rata-rata 50 ribu sehari. :( Sangar kan? Tuh bias dihitung sendiri, sebulan dia habis berapa. Belum lagi buat main-main bareng teman-temannya. Bisa karaoke, ke resto, atau jalan-jalan. Tapi Alhamdulillah, N sangat baik, ia tak pernah segan berbagi. Kalau ia punya sesuatu, pasti dibagi dengan yang lain. Namun saying, kebiasaan “hedon” itu tak bias lepas darinya. buat

Kini N sudah pindah ke kos lain, tak disini lagi. Padahal bayaran kontrakan kami sudah ia lunasi. Aku sempat bilang ke dia, cobalah prihatin dengan orangtua yang sudah mencari uang untuk dia, oleh itu jangan bikin uang mubazir. Padahal sungguh ironis, di saat jatah kasur yang buat N kosong, masih banyak orang yang butuh itu. Pastinya kalian pernah lihat saudara kita yang hanya mampu tinggal di masjid menjadi takmir.


Selengkapnya...

Reaksi: 

Sewaktu SMA, Mengapa Yang Pintar Dimasukkan ke IPA, bukan IPS?

11 Februari 2012 21.30 By Arsyil Statistikawan 4 Komentar

Saya percaya bahwa kemajuan sebuah sebuah negara dilatarbelakangi kemajuan pendidikannya. Sebut saja Jepang, negara yang terkenal miskin sumber daya alam dan kondisi alam yang buruk, mampu memperoleh kemajuan yang luar biasa saat ini. Mengutip dari sebuah buku bahwa dulu sesaat setelah Jepang di bom atom oleh Amerika Serikat saat Perang Dunia II, sebuah pertanyaan luar biasa dilontarkan oleh pemimpin negara itu, "Berapa banyak guru yang masih tersisa?"

Itulah arti penting pendidikan. Aspek di bidang lain pun akan baik jika pendidikan baik. Pendidikan yang dimaksud ini tidak terbatas di sekolah. Tapi pendidikan di sekolah adalah cukup penting. Artinya majunya sebuah negara, sistem pendidikan sekolah yang baik adalah salah satu kuncinya.

Kali ini saya menyoroti yaitu pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Kita masih ingat bahwa saat kenaikan kelas dari kelas X ke kelas XI maka tiap siswa akan memilih (atau dipilihkan) mau masuk ke kelas IPA, IPS, atau Bahasa.

Saya yakin tak hanya sekolah saya tapi juga se-Indonesia (semoga tidak semua) bahwa biasanya siswa yang pintar diarahkan masuk ke kelas IPA. Sisanya dimasukkan kelas IPS dan Bahasa. Tak rahasia umum juga bahwa seringkali siswa yang tergolong "nakal" akan dimasukkan ke kelas IPS. Maaf, bukan saya mendeskritkan tapi hanya mengulas fakta yang ada.

Lantas apa efeknya? Sesaat fine-fine saja hal tersebut. Sebab, pelajaran IPA bisa dibilang sulit oleh itu, IPA diperuntukkan bagi siswa-siswa pintar. Sedangkan pelajaran IPS tidak sesulit IPA sehingga cocok bagi siswa yang terbilang kurang pintar.

Efeknya adalah pada saat dunia kerja. Dalam bidang ekonomi, politik, dan hukum tentunya diisi oleh orang-orang yang menimba ilmu sosial di bangku perkuliahan. Fakultas Ekonomi, Ilmu Politik, dan Hukum adalah bidang IPS. Tentunya sebagian diisi oleh mahasiswa yang dulu duduk di jurusan IPS sewaktu SMA.

Secara singkat, bahwa orang-orang pintar dari jurusan IPA tidak menduduki posisi strategis negara dalam bidang Ekonomi, Politik, dan Hukum. Padahal nasib kemajuan negara bertopang pada pejabat-pejabat negara.

Seringkali di kampus sosial sistem pendidikannya amburadul. Mahasiswa mudah lulus cepat meski kuliah sesuka hati. Juga pergaulan di kampus sosial lumayan bebas. Maka keluaran lulusannya tentunya tidak sebaik yang diharapkan. Padahal mereka yang akan menjabat posisi strategis negara.

Sungguh, pendidikan yang salah harus diperbaiki. Jika mendidiknya saja salah bagaimana bisa orang yang dididik menjadi baik?
Selengkapnya...

Reaksi: 

Daftar Isi