Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

Seorang Anak Kecil Penjual Balon yang Melintas di Depan Rumahku

25 Januari 2014 17.07 By Arsyil Statistikawan 0 Komentar


Sering sekali aku mendengar atau menonton cerita anak-anak manusia yang bernasib kurang beruntung dari televisi. Salah satu anak yang kurang beruntung itu ternyata ada di sekitar kami. Seorang anak kecil yang sepertinya tidak bersekolah itu menjual balon sering lewat di depan rumahku.

Aku memang belum melihat anak kecil itu. Aku mendengar cerita anak kecil penjual balon itu dari adik-adikku yang sering melihat anak kecil itu lewat depan rumah kami sambil membawa balon. Ahhh..kaki aku lagi patah jadi tdak bisa jalan cuma bisa di dalam rumah padahal aku ingin melihatnya langsung. Aku penasaran masa ada anak seperi itu,, kasihan sekali.,,,,TT

Dari cerita adikku anak kecil itu berumur sekitar 9 tahun. Badannya hitam sepertinya karena berjualan balon itu yang setiap hari kepanasan.Ya, setiap hari! Kata adikku sepertinya setiap hari dia berjualan balon. Lalu, saat adikku pergi ke pasar malam anak kecil itu juga terlihat di pasar malam itu sambil membawa balon. Haa!? Pagi, siang, malam, kah? Wahhh, tambah merintih hatiku mendengar cerita ini, kasihan sekali anak itu.

Aku sempat berpikir betapa teganya kah orang tuanya melalukan hal iu kepada anaknya sendiri? Ibu dan bapaknya dimana? Seharusnya anak seusia ia sedang sekolah dan menikmati masa bermain..bukan malah berjualan! Waallahualam, hanya Allah yang tahu. Kudoakan, semoga Allah mengasihi anak kecil itu dan segera mensejahterakan dia. Aminn..

Terlepas itu, anak kecil itu telah menyentil hati dan pikiran kami. Pantaskah dengan fasilitas yang kupunya sekarang, kenikmatan yang Allah berikan in, aku tidak bersyukur? Ya Allah, maafkan aku yang sering lupa untuk bersyukur ya Allah.

Pangkalan Bun, 20:34, 07-01-2014.

Selengkapnya...

Go to Pekalongan with ADALAH, Great Journey!

12 September 2012 09.57 By Arsyil Statistikawan 3 Komentar

Did you know Pekalongan? Yeah, it is Batik city! The best of Batik city in the world, i think. But, aku gak ngomongin soal batik. Aku mau cerita mengenai perjalananku ke kota tersebut. Just one word i said for the journey, Great! Seru abizzz..baik perjalanan, sampai di kondangannya mba sufroh, trus ke rumah diba, pulangnya makan durian di perjalanan, dan hujannya bikin asyik.

Aku dan Hanif

Sebenarnya tujuan utama ke Pekalongan adalah datang ke walimahan (resepsi pernikahan) dari mba Sufratuts Tsaniah atau mbak sufra. Minggu 9 September 2012, akhirnya yang berangkat ada 6 orang yaitu aku, hanif (mat08), diba (mat08), lala (kim08), allyn (IF08), dan ayu (Bio09) mengendarai sepeda motor. Kami berangkat mewakili keluarga harmonis Bem Fmipa Undip 2010. Sayang, sang presiden Bem, pak Barri gak bisa ikut. Awalnya kami berencana sewa mobil tapi gak dapat, jadi dia gak bs ikut kalau naik motor.
ADALAH Goes to Pekalongan

Sekitar pukul setetengah 9 kami berangkat. Ada gunanya juga kamera digital yang kubawa. Berawal dari singgah di pom bensin mangkang, muali deh narsis kami. Ha ha.. gak papaa. Targetnya dua jam setengah sampai pekalongan tapi karena macet dsb.. sekitar pukul 11 kami sampai di kondangan mbak sufra. Nah ini nih yang kami bingung, di depan tertulis “Sufroh & A Yani” apakah sufroh=sufra? Kami takutnya dah sampai ke dalam ternyata bukan walimahannya mba sufra, ho ho. Tapi gak kok, emang dah bener, ini pernikahan ma sufra. Sebab, disini dia dipanggil sufroh, ha ha lucu2..

Sampai di dalam, kami terutama aku sangat pangling bener gak sih yang di pelaminan ini mba sufra? Yakin deh, beda banget! Mungkin gara2 dandanannya itu kali.. hanya suaranya yang bikin aku kenal kalau itu memang dia. : ) Setelah puas berfoto-foto dan menikmati makanan disitu kami undur diri sekitar pukul 1 siang.


Go to Pekalongan of course, planning yang kedua adalah ke rumah Farroh Dibaj. Lumayan walaupun sudah kenyang tapi disuguhi buah-buah dan lainnya. Namun sayang, cepet banget, segera selesai shoat dhuhur dijama ashar kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Eiitss, tak lupa berfoto, wk wk, bareng keluarga seisi rumah dibaj..adeknya lucu, malu2 gitu, setelah kuajak mau deh foto bareng.

Foto bareng Diba Family

Si hanif ternyata kepincut pengen beli baju batik yang ada di toko di dekat situ. Aku dan hanif akhirnya membeli batik, sedangkan yang lain enggak. Ha ha maklum bapak-bapak masa kini, (rempong deh). :P

Bapak2  Shopping

Di perjalanan pulang pada ngerengek-ngerengek “ayo yang dah lulus traktir duren”. Ya deh, kutraktir duren akhirnya. Beli di pinggiran jalan waktu di Batang, dasar yah, beli 1 gak cukup! Ya Allah nih bener-bener manusia, gak pernah puas, tadi minta beli dan dibeliin eh minta banyak. Hadeuuhh... Tapi gpp, seru deh bsa makan duren bareng.

Makan Duren di Batang

Ada yang mau ikut acara Halal bi Halal, ada yg mau “xxxx”, sehingga minta lekas pulang ke Semarang. Tapi permintaan mereka tertolak mentah-mentah sebab turun Hujan! Kami cukup terhambat gara-gara hujan ini, tapi gpp alhamdulillah, bersyukur sama Allah, menambah keseruan kami. Rumusnya begini,
hujan turun = berteduh di pinggr jalan = berfoto-foto.
Waka waka waka.

ADALAH berteduh dari Hujan

Di sebuah tempat teduhan, akhirnya tercetuslah ADALAH. Hmm pasti terinspirasi boyband-girlband yang lagi menjamur Sekarang. :) ADALAH memiliki terdiri atas huruf-furuf yang mewakili nama kami berenam yaitu Arsyil, Diba, Allyn, Lala, Ayu, dan Hanif. Ha hahaa..lucu gokil SERUUU.

Perjalanan kami diakhiri dengan makan bareng di Tembalang, see u guys.. : ) ADALAH great, BEM FMIPA UNDIP 2010, miss u all.
Selengkapnya...

Pengalaman Pertama Jadi Tentor Alias Guru Les Private

12 Maret 2010 22.05 By Tembalang Online 18 Komentar

Sudah sekitar dua minggu ini diriku ngelesin seorang siswa SMP kelas 9. Tepatnya sejak 21 Februari 2010 lalu. Alhamdulillah sekarang dah mulai terbiasa. Yang awalnya dulu deg-degan ketika baru nyampe depan gang rumah si siswa, sekarang sudah enggak lagi. Yang dulunya telat datang dan mengajarnya lebih dari 1,5 jam sekarang mungkin dah mulai belajar mengatur waktu. Yang dulu masih belum hapal jalan ke rumahnya sekarang sudah enggak lagi dan mulai terbiasa melakukan perjalanan malam hari ke sana.

Namanya adalah Tiara, lengkapnya Tiara Agustina. Kelas 9 salah satu SMP di Semarang namanya SMP Institut Indonesia. Alamat rumahnya di Tlogosari Wetan Gg Gasem Indah, jauh banget deh dari kosku. Sekitar setengah jam naik motor. Bayangin aja bolak balik dah habis bensin seliter tuh, sebanding gak tuh dengan honorku jadi tentor 19ribu. Denger-denger temanku ada yg jadi tentor di tempat lain, gajinya malah 20ribu padahal letak muridnya tidak jauh yaitu di Banyumanik.

Sebenarnya dari info yang kudapat dari mas Gugun sebagai pemilik bimbingan belajar tempatku bernaung yakni Bimbingan Belajar PERSPEKTIF, bahwa uang yang di tarik dari sisswa adalah 26000. Berarti ada 7000 yang masuk ke kas Bimbel. Sebenarnya malah honor tentor adalah 16000 tetapi karena letak rumah anak didikku jauh jadinya dikasih honor 19000.

Aku sih saat ini gak memusingkan honornya berapa, yang penting adalah pengalaman yang kudapat. Tetapi terkadang aku juga berpikir harusnya honor sebandinglah. Soalnya dua hal yang kupertimbangkan yaitu biaya bensin yang kukeluarkan 1liter=4500, sedangkan penambahan honorku hanya 3000, lalu yang kedua adalah mengenai waktu. Setengah jam diperjalanan dikali 2 (berangkat+pulang) ditambah waktu belajarnya (1,5 jam) adalah 2,5 jam. Singkat cerita kalau pulang dari ngelesin adalah setengah 10an (malam). Nahlo, aku takutnya kalau lagi banyak tugas kuliah, waktu belajarkupun berkurang. Coba seandainya rumahnya dekat alias pemakaian waktu perjalanan singkat kan lain ceritanya.

Tetapi terkadang pemikiran yang dalam tanda kutip “mengeluh” itu sirna begitu saja, disaat teringat sikap kekeluargaan dari bapak/ibu Tiara (aka siswa), mereka baik, bahkan setiap jam private aku disuguhi minuman terus. Serta diri Tiara yang aku suka, orangnya cantik, manis, baik, pendiam, dan pemalu. Mungkin saja jika aku mengajar di tempat lain, muridku gak seperti dia.

Setiap Rabu dan Minggu adalah jadwalku negelesin Tiara. Mulai dari jam 19.00 sampai 20.30. Tetapi terus terang selama ini aku agak telat, bahkan pernah sekali datang telat sengah jam lebih. Trus kalau waktu selesai, juga diriku kadang gak ingat waktu. Yah bisa sampai jam 9 bahkan stengah 10.

Selengkapnya...

Tipes Penyakit Mahasiswa?

04 Januari 2010 12.09 By Tembalang Online 17 Komentar

Duh dah lama gak ngeblog nich. Akhir-akhir ini diriku dah jarang posting di blog. Selain karena ak ada waktu, aku juga beberapa waktu lalu terbaring sakit. Penyakit yang lebih gak enak dari malaria, yaitu tipes. Bahkan sampai sekarang badanku masih ada efek dari sakit tipes itu. Badanku masih agak lemas dan penglihatanku masih buram dan agak ngeliung-ngeliung.

Kata temanku aku tergolong cepat sembuhnya. Yaitu setelah seminggu sakit aku dah bisa kuliah. Sebab dia pernah punya pengalaman sakit tipes samapi 2 minggu baru sembuh. Bahkan ada juga temanku lainnya lebih lama dan samapai di opname di rumah sakit. Weks, beruntung aku gak sampai rawat inap. Lagipula diriku kan jauh dari orang tua, duit anak kos mah seiprit.

Di mulai dari jumat silam (11/12/09), pagi hari adanku sudah terasa demam dan kepalaku agak pusing. Inisiatif minum obat sih sudah ada waktu itu. Eh malah kelupaan, keburu berangkat ke kampus. Alhasil di kampus badanku malah tambah menjadi demamnya dan tambah pusing.

Sempat melarikan diri bentar saat praktikum untuk membeli obat di warung. Abis diminum dah agak mendingan. Tapi tetap aja badan terasa gak enak. Selesai ngampus aku langsung balik ke kos, dan tertidur lelap sampai sore.

Setelah bangun, akupun menemui diriku yang sdah dalam keadaan sakit. Badan demam, terasa panas dingin, kepala pusing, perut terasa gak enak, dan tentunya sama sekali gak nafsu makan. Bersyukur aku punya teman-teman kos yang baik dan menolongku membelikan makanan, mengambilkan minum, membelikan obat, dan terus memperhatikan gimana kondisiku.

Bodohnya diriku saat itu, aku mendiagnosa sendiri apa penyakitku. Pengalaman sebelumnya aku pernah mengalami malaria, yah gejalanya seperti itu, demam dan kepala pusing. Aku pun meminta tolong temanku untuk mebelikan obat malaria, yaitu Mexaquine.

Dua hari aku sakit, merupakan masa yang paling parah, badan demam banget, kepala pusing sehingga bikin gak sanggup untuk berdiri. Yang paling gak enak adalah perut mual banget, pokoknya muntah-muntah terus, makan apapun ditolak. Meskipun sama sekali gak nafsu makan, aku tetap paksain tetap makan meskipun sedikit atau bahkan cuma nasi putih waktu itu. Pokoknya perut gak boleh dalam keadaan kosong. Sebab menurutku ikhtiar yang kudu dilakukan waktu sakit adalah makan, minum obat, dan istirahat. Tiga itu aja yang cukup dilakukan maka insyaallah semoga Allah memberikan kesembuhan pada kita dari sakit. Yah selain yang pastinya berdoa juga.

Sungguh subhanallah sekali waktu sakit itu. Hikmah waktu aku sakit, aku waktu itu jadi sangat menyadari akan betapa berharganya nikmat sehat. Jauh lebih baik sehat, betul kata sebuah lagu bahwa kita harus memanfaatkan sehat sebelum datang masa sakit. Alhamdulillah pada waktu sakit aku sudah berusaha menjaga sholat lima waktuku. Tentunya karena aku gak sanggup berdiri, terpaksa sholat kulakukan dengan posisi sholat orang sakit. Aku sholat dengan posisi berbaring dan menghadapkan tubuhku ke kiblat, sholat dengan gerakan semampuku. Sempat sih satu kali aku lalai sholat karena ketiduran, astagfirullah. Ya Allah aku mohon ampun kepadamu.

Ucapan terima kasih teruntuk Faqih, Afif, Tito, mas Zaenal, mas Ahmad, pokoknya saudara-saudaraku satu wisma AlAnfal, atas pertolongan dan perawatan diriku saat sakit. Faqih yang sungguh subhanallah telaten sekali membantu diriku, juga Afif. Mas Zaenal yang kesediaannya mengantarkan aku periksa ke rumah sakit. Wah sungguh beruntungnya diriku memiliki saudara-saudara seperti antum semua.

Ini adalah hari ketiga, sedikit agak mendingan dari kemarin, yaitu perut dah agak gak mual lagi. Tapi menurutku kondisiku masih belum ada perubahan yang signifikan, padahal dah hari ketiga. Sehingga diriku diajak mas Zaenal untuk periksa ke rumah sakit aja. Padahal badan masih belum sangup benar untuk berdiri, tapi demi kesembuhan aku harus berani. Kami langsung menuju rumah sakit Banyumanik.

Di sana diperiksa oleh seorang Dokter. Ditanya-tanyain kondisi tubuhku. Kulihat beliau mencatat gejalanya adalah; lemas, demam, muntah-muntah, pusing, nyeri ulu hati. Juga dilihat tekanan darahku. Setelah itu, mas Zaenal nanya ke beliau apa penyakitku, dokter jawab katanya aku ini kalau gak gejala tipes atau DB. Belum bisa dipastikan soalnya baru 2 hari. Baru diketahui penyakitnya apa setelah cek darah setelah hari keempat. Kemudian diberikan resep obatnya. Duh ternyata, diagnosaku yang kemain salah to. Capek deh Arsyil, bukan malaria kan.

Hari selanjutnya tubuhku dah mendingan, dibantu oleh obat yang kuminum, dan sudah agak sedikit nafsu makannya ada. Dan obat tepat habis setelah hari keempat. Pun kuiyakan saan mas Zaenal untuk ke rumah sakit lagi, guna cek darah biar tau penyakitnya apa. Kalau prediksiku sih tipes, soalnya gejala yang kulihat lebih condong ke tipes.

Di rumah sakit, sekitar setengah jam baru keluar hasil cek darahnya. Dan kata dokter sakit yang kuderita adalah gejala tipes alias tipes ringan. Huh syukur deh.

Hai kelima alhamdulillah aku dah membaik, setidaknya mungkin dah bisa sanggup berdiri lama. Aku putuskan hari itu untuk berangkat kuliah. Dah mau ujian, aku sungguh takut ketinggalan pelajaran.

Setelah selesai kuliah yang tak kuharapkan turun dari langit, yaitu hujan mengguyur. Dengar cerita teman-teman, bahwa tipes bisa kambuh sewaktu-waktu ketika kondisi badan tidak fit alias kelelahan, atau saat daya tahan tubuh turun, semisal kehujanan. Aku lalu menunggu hujan sampai reda.

Lama sekali hujannya, bahkan jam 8 malam hujan belum juga reda. Karena dah larut malam, aku dan seorang temanku memutuskan untuk menerobos aja tuh hujan, alhamdulillah hujannya juga dah gak deras.

Meski masih kurang fit hari esoknya aku tetap berangkat kuliah, eh taunya sore selesai kuliah hujan lagi, dan lagi-lagi menerobos hujan. Alhasil malam dan esoknya demam dan pusing lagi. T_T Padahal pagi esok ada responsi.

Dalam hati aku meyakinkan diriku, “Syil jangan lemah gini, ayo berangkat responsi”. Dengan membaca bismillah, aku ke kampus meski kondisi masih sakit dan lemas.

Bertambahnya hari keadaankupun semakin membaik. Kata orang, tipes baru sembuh benar setelah dua bulan. Jadi, selama itu aku harus menjaga kondisi tubuhku, jangan terlalu kelelahan dan makan-makanan kaya gizi dan teratur.

Pesan untuk siapa saja untuk yang baca tulisan ini, khususnya teman-teman mahasiswa. Hati-hati dengan penyakit tipes, karena penyakit ini konon mahasiswa yang ngekos jarang yang luput terkena penyakit ini. Jadi jaga kondisi tubuh, makan yang teratur, meski lagi kanker (kantong kering) tapi usahakan perut tetap terisi. Karena sungguh nikmat sehat sangatlah berharga. Aku nih yang sudah mengalaminya. Pokoknya saat sakit, waktu 1 menit seperti satu jam, waktu berjalan terasa lama banget. Tidur susah, badan gak enak, mending kalau ada yang telaten ngerawat, kalau kita anak kos kebetulan teman-teman kita pada sibuk sendiri, nah lo pun kita harus berjuang melewati sakit sendiri.

“Mohonlah kepada Allah keselamatan dan afiat (kesehatan). Sesungguhnya tiada sesuatu pemberian Allah sesudah keyakinan (iman) lebih baik daripada kesehatan.” (HR. Ibnu Majah)

=Arsyil=

Selengkapnya...

Salam Kenal Untuk Kota PATI

25 Desember 2009 19.20 By Tembalang Online 5 Komentar



24 Desember 2009, satu lagi kota di Jawa Tengah yang sudah kupijak. Setelah sebelumnya selain Semarang aku telah berhasil memijakkan kakiku di Demak, Jogja, Magelang, Salatiga, Solo, dan Kudus. Berbagai pengalaman telah kuperoleh. Itu baru sedikit jika dibandingkan jumlah kota di Jawa Tengah. Aku punya planning untuk menjelajahi kota-kota di Jawa Tengah, kalau perlu malah di Jawa bagian lainnya (Jawa Barat/Timur). Wah luar biasa sekali ya kalau aku sudah pernah ke semua kota di Jawa.

Aku ke Pati bersama 7 orang temanku lainnya. Ke sana dalam rangka menjenguk salah satu saudara kami yang sedang sakit, alias abis dioperasi. Letak rumah temanku itu di kecamatan apa gitu, kalau gak salah namanya Kayen.

Namanya adalah Heri, dia adalah mas`ul liqoku (mentoring). Jadi emang yang ke Pati adalah teman-teman satu mentoringku. Juga tak lupa murobbi kami juga turut ikut, yaitu mas Feri. 6 orang lainnya adalah, Fahmi, Kelik, Amar, Aribat, Tito, dan mas Agus.

Rencana awalnya berangkat pagi jam 7.30. Kalau aku sama Kelik sih datang kumpul tepat waktu, tapi yang lainnya molor. Belum lagi karena kurang satu motor, harus mencari pinjaman. Dan Alhamdulillah mas Agus mau, dan dia juga mau ikut ke Pati. Motor lengkap, eh kurang satu helm, syukur di AlAnfal ada mas Ahmad yang mau meminjamkan helmnya. Akhirnya kami pun berangkat pukul 10.

Rintangan dan cobaan ternyata tak sampai di situ saja. Di perjalanan, ban motor Kelik kebanan (kempes pes). Kami pun singgah di sebuah bengkel. Si Kelik lalu mengambil keputusan untuk langsung mengganti ban dalam motornya. Sekitar setengah jam di sana kami manfaatkan untuk melakukan hal lain, seperti mas Agus yang memanfaatkannya dengan mengisi perutnya di sebuah warung tegal. Kemudian si Aribat dan Amar membeli durian yang kebetulan ada di sekitar situ. Tak mau ketinggalan aku juga ikut mencicipinya.

Semua persiapan sudah matang kami langsung go melanjutkan perjalanan. Eh ada hal lucu di jalan, si Aribat helmnya tiba-tiba lepas dari kepalanya, melacung kena angin. Untung gak kelindas ban mobil. Ayaya wae nih Aribat.

Alhamdulillah perjalanan dari Semarang ke Pati, kami gak ada kesasar. Dan tepat sampai ke rumah tujuan. Buah dari ingatan kuat si mas`ul perjalanan kami yaitu Fahmi. Kami tiba sekitar jam setengah satu-an. Huff pejalanan yang bikin lelah dan tentunya sudah pada lapar. Eiits sebelum itu sholat Dhuhur dulu. Waktu Dhuhur sudah tiba.

Selesai sholat Dhuhur di masjid dekat situ, kami kembali ke rumah Heri. Ngobrol-ngobrol sama dia, eh gak lama kemudian kami di Jamu alias makan bareng. Duh yang paling ditunggu-tunggu ma si Fahmi neh. Subhanallah, sate ma gulainya enak banget, belum lagi minumannya es jeruk. Plus ada buah Rambutan lagi. Kenyang deh pokoknya. Satenya abis bis. Duh duh nih niatnya jenguk apa mau ngabisin makanan seh. Syukron untuk akh Heri.

Kami memutuskan untuk sholat Ashar di sana dulu, baru kemudian balik ke Semarang. Sekitar pukul 4 kami memulai perjalanan pulang. Di awal-awal eh hujan rintik-rintik turun. Sampai di Kudus tu hujan baru berhenti. Meskipun udah gak hujan tapi jalan macet, dari Kudus ke Demak macet deh pokoknya.

Lolos dari kemacetan kami melewati Demak, eh tau-tau hujan deres banget. Beuh, subhanallah gelap banget awannya. Kemudian sampai di Genuk Semarang, dan hujan sudah lewat. Tapi macetnya bukan main, macet cet. Butuh waktu lama kami bisa berhasil melewati kemacetan itu. Bahkan sampai sudah lewat sholat Magrib.

Sambil mengisi bensin di Pom Bensin terdekat, kami sekalian sholat Magrib di mushola pom bensin itu. Yaitu aku, mas Feri, Kelik, Amar, Tito, dan mas Agus. Kalau Fahmi ma Aribat gak tau dah sampai mana, mereka tadi dah duluan, dah sampai Tembalang kali.

Selesai sholat hal yang tak diharapkan, kembali terjadi, hal itu tak lain bernama hujan. Tapi kali ini lebih lebat dari sebelumnya. Apalagi pas naik tanjakan saat di Meteseh, dah mau dekat Tembalang tuch. Beuh, hujan badai pokoknya. Subhanallah banget. Dah curah hujannya segede-gede batu, banjir lagi jalannya. Lucu banget deh ekspresiku waktu melawan tanjakan dalam keadaan itu. Syahadat, tasbih, istigfar, kubaca semua. Emang ujannya ngeri banget, kilatnya beuh, nyambar-nyambar seenaknya deh. Untung kami gak dikepret ma tuh kilat.

Rintangan, jalan berliku, cobaan, dsb, akhirnya pun selesai sudah dengan sesampainya diriku dan Kelik di kosku, oh wisma AlAnfal, aku nyampe juga. Alhamdulillah… Karena basah kuyup banget, si Kelik langsung balik ke kosnya, dia takut malah masuk angin.

Sedang aku sampai kamar langsung buka baju, kamar mandi i`am coming, I want mandi. Eh tau-tau malah mati lampu. Jiah. Untung ada lilin. Sambil mandi sekalian hangatin air di kompor ah, mau bikin mie ma energen.

Selesai mandi n makan, tak bisa ditahan lagi mata yang kepengen tidur, dan plek akupun tidur. Selamat tidur, dan selamat atas pengalaman hari ini ke Pati. Terima kasih teman-teman.

=aRSYIL=
Selengkapnya...

Mengurus / Membuat KTP (Hilang) di P Bun, Persyaratan Mudah Biaya Murah!

28 Juli 2009 16.47 By Tembalang Online 5 Komentar

Alhamdulillah sekali tadi siang diriku kembali punya KTP dimana sebelumnya telah hilang bersama dompet di Semarang yaitu 3 bulan yang lalu. Gampang banget tau ngurusnya. Meskipun pangkalan bun kota kecil dan berada di Kalimantan Tengah jangan salah. Cuma sehari sudah jadi ui! Beneran, ga bohong, aku barusan mengurusnya. Plus murah lagi biayanya.

Aku melihat memang sekarang peningkatan pesat. Sebelumnya, yaitu tahun lalu setelah satu minggu butuh waktu satu minggu baru jadi.

Membuat KTP lagi yang hilang, (yang kejadiannya sama kayak aku sekarang) nyaris hampir sama prosesnya dengan membuat KTP baru. Bedanya adalah dengan menyampaikan surat keterangan kehilangan dari kepolisian setempat dimana KTP kita hilang. Ingat, surat berlaku cuma dua minggu. Jadi kalau mau mengurus KTP yang hilang tersebut, buat surat kehilangan itu dekat dengan harinya aja.

Di Pangkalanbun, membuat KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, di jalan Sutan Syahrir. Kalau dari Sampuraga sebelum kantor Bupati. Di depan kantor pos. Dari depan gedung kantor tersebut memang sepi, sebab pintu ke kantor buat bikin ktpnya di bagian kiri belakang bangunan tersebut.

Tapi sebelum kesana sebaiknya penuhi persyaratannya gih dulu. Yaitu surat pengantar dari ketua RT/RW dan kelurahan, fc kartu keluarga, serta menyampaikan surat kehilangan dan fc ktp lama kalau ada.

Biaya yang dikeluarkan pembuatan ktp adalah 10ribu (sesuai uu kok). Kemudian diminta lagi biaya untuk laminating yaitu seribu rupiah (gak dipaksa laminating disana).

Tapi biaya tadi cuma waktu di dinas kependudukan. Kalau di ketua RT/RW 0 rupiah alias gratis (itu kalau ketua RT saya). Biaya yang keluar waktu di kantor kelurahan adalah 5ribu (mudahan aja emang ada peraturannya). Kalau pada waktu mengurus surat keterangan kehilangan di kepolisian adalah "seikhlasnya" (berarti boleh gak bayar).

Semoga bermanfaat. Tulisan ini kupersembahkan untuk Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kotawaringin Barat. Terima kasih sudah membuat ktp baruku dengat cepat. Semoga pelayanan seperti ini sama kayak di dinas-dinas lainnya di pbun. Hidup Pangkalan Bun!

Semoga bermanfaat.

=Arsyil=
28 Juli 2009.


Selengkapnya...

Kata Bijak Hari Ini

3 RUMUS SUKSES

Rumus 1 :
Man Jadda Wajada
(Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
Rumus 2 :
Man Shobaro Zhafira
(Siapa yang bersabar akan beruntung)
Rumus 3 :
Man Saro 'Aladdarbi Washola
(Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai)