
Ternyata film real steel sudah lama tayangnya, yaitu di tahun 2011. Walau film lama, tak apa, yang penting ada “meaning” dari suatu film yang kudapat saat aku menonton suatu film. Kali ini film real steel cukup memberikan itu. Lama sudah aku tak pernah posting mengenai review sebuah film. Lebih karena film real steel ini ada hubungannya dengan kehidupanku makanya akutulis di blog.
Beberapa sceen dari film real steel sempat membuatku terharu. Kisah seorang anak dan ayahnya di film ini mengesankanku. Film mengenai pertarungan robot ini dibumbui kisah antara anak dan ayah. Ayah yang menjual hak asuh anaknya tak menyangka bahwa anaknya bernama max bakal memberikan arti di hidupnya. Sceen yang paling berkesan adalah saat max melihat ayahnya dengan tatapan bangga seolah ia berkata “He is my Dad”, dia adalah ayahku.
Seketika itu aku jadi teringat kisah nyata kehidupanku. Jujur, aku tak pernah dan tak bisa berkata “dia adalah ayahku”. Karena aku telah berpisah dengan ayah kandungku sejak aku masih kecil. Dengan kata lain, aku tumbuh tanpa kasih sayang dari seorang ayah kandung.
Hidupku bermula saat itu. Saat perpisahan ibu dan ayah kandungku saat berumur 4 tahun. Tapi hikmah itu semua, bahwa bisa jadi aku tak ada di Jakarta saat ini kalau cerita itu tak ada. Perpisahan itu membuat ibuku menetap di kalimantan dan menikah lagi dengan bapak aku sekarang. Sepanjang aku kecil hingga dewasa aku bersama dengan bapak bukan kandungku.
Selengkapnya...
Posted in
curhat
Pernah gak ketika berbicara dengan seseorang, dan saat menanyakan sesuatu eh si lawan bicara malah menjawab dengan kata Kepo? Yupz, kalau aku di kantor sering banget tuh..contohnya:
“Q : Kamu darimana?
A : Kepoo..”
atau
“Q : Kamu lagi mengerjakan apa?
A : Kepoo..”
Huhh.. buat aku nyebelin banget tuh orang ketika menjawab kayak gitu. Kan jadi malesin banget deh buat ngobrol kalau dia suka jawab begitu.
Aku tak tahu sejak kapan kata “Kepo” lahir. Tapi yang jelas sebelum aku di Jakarta, ketika berbicara dengan orang lain aku gak pernah dapat tanggapan berupa kata Kepo. Bisa jadi karena perbedaan budaya kali ya. Aku gak mau menyalahkan salah satu wilayah atau masyarakat. Tapi ketika dulu aku di Kalimantan, Jawa, dan Turki. Ketika aku menanyakan sesuatu pasti mendapat sebuah jawaban, bukan malah dikatain “kepo”. Okay fine, mungkin di Jawa gak segaul di Jakarta, atau di Turki gak ada kata sejenis dengan Kepo. Dan bisa jadi aku yang belum beradaptasi dengan gaulnya percakapan di Jakarta, tapi yang jelas aku sungguh tak menyukai kata Kepo.
Ketika di Turki, aku bahkan melihat fenomena sapaan yang sungguh berbeda dengan di Indonesia. DI Turki, menanyakan “Nasilsin” (Apa Kabar) atau “Ne yapiyorsun” (Kamu lagi ngapaian) menjadi lumrah dilakukan berkali-kali dalam satu hari. Kalau di Indonesia, kata Apa Kabar kan baru digunakan ketika lama tak jumpa, nah kalau di Turki bisa diucapkan pagi-siang-malam. Aku pernah menyampaikan hal ini kepada salah satu orang Turki yang kukenal waktu itu. Dia menjawab bahwa pertanyaan tersebut diucapkan berkali-kali sebagai wujud perhatian kepada orang yang kita kenal, bahkan statement dia kepadaku, “bukannya malah baik budaya seperti itu?”. Wow, aku terenyuh sekali, betapa hangatnya bentuk salam mereka yang penuh perhatian.
Perngalaman pertamaku mendengar kata Kepo adalah dulu saat menjadi Guru di sebuah sekolah modern di Tangerang Selatan, tak lama setelah kepulanganku dari Turki. Seorang muridku yang mengucapkan kata itu. Padahal pertanyaanku kepada dia merupakan bentuk perhatian seorang guru kepada murid,seputar pelajaran, eh sering dijawab dengan kata Kepo. Haduhh benar-benar apa yah, bisa kubilang sebuah penurunan rasa santun yang terjadi pada anak zaman sekarang.
Harapan aku buat teman-teman sekalian tolong deh jangan keluarkan kata “Kepo”, karena gak semua orang menerima itu termasuk aku. Apalagi jika diucapkan kepada orang terdekat, maka dapat menimbulkan salah paham dan merenggangkan hubungan yang ada.
Jika memang suatu hal tidak mau diketahui oleh lawan bicara maka jawablah dengan jawaban lain yang santun, misal “maaf aku ada urusan pribadi tadi” atau dengan cara DIAM bukan dengan kata “Kepo”. Seperti kata pepatah “Berkatalah yang baik atau diam”.
Bahkan di ajarannya orang Islam, Nabi mengajarkan melalui hadisnya:
“Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)”.
Jakarta, 25 Agustus 2015
Arsyil Hendra Saputra
Selengkapnya...
Posted in
curhat
Hari ini tadi ada manajer SDM, namanya Ibu Yanti. Beliau datang ke ruang kerjaku. Duduk dan langsung menasehati mengenai tidak bolehnya bermain HP ketika sedang bekerja. Sepertinya beliau secara sekilas melihat seorang teman kerjaku yang sedang berkutat dengan HP di saat mengerjakan sesuatu di meja kerja. Tentunya itu juga nasehat buat aku. Aku juga sepakat bahwa perlunya membatasi interaksi terhadap gadget. Loh lantas apa hubungannya dengan judul di atas? Yup, 100% aku teringat akan seorang dosenku, beliau bernama Bu Yusi.
Bu Yusi, aku sangat kagum dengan segala sikap dan sifat beliau. Beliau adalah dosen kuliahku sewaktu masih mengenyam pendidikan S1 di jurusan Statisika Undip. Banyak hal positif yang kupelajari dari beliau. Tak bisa kupungkiri beliau salah satu dosen inspirasiku. Salah satunya adalah kebiasaan beliau yang tidak membawa peralatan komunikasi ketika sedang mengajar di ruang kuliah.
Kalau hal yang biasa bagi pengajar lain mungkin HP itu dimatikan atau di-silent sewaktu sedang mengajar. Itupun masih pikir-pikir, karena dengan mematikan HP artinya memutus komunikasi dengan dunia di luar ruang kuliah jadi benar-benar fokus mengajar. Tapi Bu Yusi seingatku tidak begitu, beliau tidak membawa HP ke ruang kuliah, beliau meninggalkannya di kantor dosen/ di meja kerja beliau. Subhanaallah. Aku pertama kali tahu hal ini benar-benar membuatku salut banget sama disiplin beliau. Tak hanya disiplin waktu (selalu datang ke kampus ontime) tapi juga disiplin untuk hal lain.
Aku tak mau inspirasi yang kuperoleh dari beliau hanya lewat begitu saja. Semoga hal ini sedikit banyak bisa kuterapkan pada aktivitas pekerjaanku sehari-hari. Aku ingin fokus, all out pada pekerjaanku, aku tak ingin keberadaan HP mengganggu fokusku saat bekerja. Aku berusaha meminimalisir seminimal mungkin berinteraksi dengan HP saat bekerja. “HP adalah alat kita, bukan yang memperalat kita”
Selengkapnya...
Posted in
curhat